Wednesday, 13 March 2013

Late Happiness


And who do you think you are
Running around leaving scars
Collecting your jar of hearts,
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
Don't come back for me
Who do you think you are?

Lagu yang diputar di radio taxi ini membuat air mataku tak berhenti menetes. Teringat jelas detik demi detik bagaimana ia menghempaskan ku. Hancur...

Dulu, kami saling mencintai, kemanapun ia pergi, aku selalu mendampinginya. Kami berada dalam kantor yang sama, dia direktur keuangan dan aku sekertarisnya. Aku tahu semua jadwalnya, bahkan akupun ikut dalam setiap meeting, tak terkecuali meeting dengan wanita itu. Wanita jahat yang telah mengambilnya dari pelukanku.

Bodohnya aku, setiap kali ia pergi meeting di hotel dengan wanita itu, tidak pernah sedikitpun aku curiga. Ia lebih memilihnya daripadaku. Bahkan ia menghempaskanku ke jurang kehancuran dengan memecatku dari kantor. TRAGIS. Berhari-hari aku lewati dalam keterpurukan, sampai-sampai aku dikira gila oleh keluargaku sendiri. Bagaimana tidak, kala itu kami sudah menyiapkan atribut pernikahan dan ketika wanita itu datang, semua hancur.

Empat tahun kulewati dengan mengubur kenangan ku bersamanya, dalam-dalam. Aku pindah keluar kota dan sedikit demi sedikit menata hidupku yang baru. Bahkan bayangannya pun sudah kuhapus bersih dari ingatanku. Namun, sebulan yang lalu, aku melihatnya duduk termenung di pagar rumahku, ia menungguku. Aku yakin ibukulah yang memberikan alamat rumahku yang baru. Ia datang untuk meminta cinta ku kembali.

Dan malam ini ia benar-benar datang untuk menyatakan cintanya kepadaku. Namun aku gagal menunjukkan ketegaran hatiku dihadapannya, aku begitu rapuh. Aku pergi tanpa sempat mengucapkan kata-kata yang dapat menghancurkan hatinya. Aku pergi dengan air mata. Malam ini kuhabiskan dengan meratapi diri, bodohnya aku…
Tissu mbak." Ujar supir taksi mengejutkanku. Akupun mengambil beberapa lembar tissunya, untuk mengusap air mataku.
"Makasih ya mas."
"Iya mba. Jangan nagis terus mba, ntr cantiknya luntur,,hehehe..."
"Ah si mas bisa aja."
"Ngomong-ngomong mau dianter kemana ya mbak?"
"Ke tebet mas. Sorry ya lupa kasitau."
"Iya gak papah mbak. Btw kalo boleh tau, mba knp nangis sih mba?"
"Iya nih mas, mantan aku yang udah ninggalin dan nyakitin aku, balik lagi dan minta aku jadi pacarnya lagi." Woops.. Kenapa dengan mudahnya aku mengungkapkan perasaanku dengan orang yang baru ku kenal, supir taksi.
"Lebih besar rasa cinta, atau benci di hati mbak?"
Aku terdiam, rasanya aku tidak dapat ku menjawab pertanyaan itu.
"Mbak, kok diem?"
"Ga tau mau jawab apa mas."
"Believe your heart."
Woww, aku terkejut dengan kata-katanya yang barusan.
"Mas ini sebenarnya siapa sih?"
"Nama saya Ridwan, saya sih sebenernya mahasiswa jurusan psikologi mbak, saya nyupir gara-gara uang saya ga cukup buat bayar skripsi, hehehe…” tawanya renyah, seperti tak ada beban.
“Ooh gitu.” jawabku datar.
“Cowok itu kalo udah mencintai seseorang, dia akan terus berusaha untuk mendapatkan wanita yang ia cintai. Jadi mbak jangan nangis, biar waktu yang jawab apakah dia bener-bener sayang sama mbak atau enggak.”

Aku terdiam. Rasanya apa yang ia katakan ada benarnya. Namun aku termenung, apakah masih ada tempat di hatiku, untuknya

No comments:

Post a Comment