And who do you think
you are
Running around leaving scars
Collecting your jar of hearts,
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
Don't come back for me
Who do you think you are?
Running around leaving scars
Collecting your jar of hearts,
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
Don't come back for me
Who do you think you are?
Lagu yang diputar di radio taxi ini membuat air mataku tak
berhenti menetes. Teringat jelas detik demi detik bagaimana ia menghempaskan
ku. Hancur...
Dulu, kami saling mencintai, kemanapun ia pergi, aku selalu
mendampinginya. Kami berada dalam kantor yang sama, dia direktur keuangan dan
aku sekertarisnya. Aku tahu semua jadwalnya, bahkan akupun ikut dalam setiap meeting, tak terkecuali meeting dengan wanita itu. Wanita jahat
yang telah mengambilnya dari pelukanku.
Bodohnya aku, setiap kali ia pergi meeting di hotel dengan wanita itu, tidak pernah sedikitpun aku
curiga. Ia lebih memilihnya daripadaku. Bahkan ia menghempaskanku ke jurang
kehancuran dengan memecatku dari kantor. TRAGIS. Berhari-hari aku lewati dalam
keterpurukan, sampai-sampai aku dikira gila oleh keluargaku sendiri. Bagaimana
tidak, kala itu kami sudah menyiapkan atribut pernikahan dan ketika wanita itu
datang, semua hancur.
Empat tahun kulewati dengan mengubur kenangan ku bersamanya,
dalam-dalam. Aku pindah keluar kota dan sedikit demi sedikit menata hidupku
yang baru. Bahkan bayangannya pun sudah kuhapus bersih dari ingatanku. Namun, sebulan
yang lalu, aku melihatnya duduk termenung di pagar rumahku, ia menungguku. Aku
yakin ibukulah yang memberikan alamat rumahku yang baru. Ia datang untuk
meminta cinta ku kembali.
Dan malam ini ia benar-benar datang untuk menyatakan
cintanya kepadaku. Namun aku gagal menunjukkan ketegaran hatiku dihadapannya,
aku begitu rapuh. Aku pergi tanpa sempat mengucapkan kata-kata yang dapat
menghancurkan hatinya. Aku pergi dengan air mata. Malam ini kuhabiskan dengan
meratapi diri, bodohnya aku…
Tissu mbak." Ujar supir taksi mengejutkanku. Akupun
mengambil beberapa lembar tissunya, untuk mengusap air mataku.
"Makasih ya mas."
"Iya mba. Jangan nagis terus mba, ntr cantiknya
luntur,,hehehe..."
"Ah si mas bisa aja."
"Ngomong-ngomong mau dianter kemana ya mbak?"
"Ke tebet mas. Sorry ya lupa kasitau."
"Iya gak papah mbak. Btw kalo boleh tau, mba knp nangis
sih mba?"
"Iya nih mas, mantan aku yang udah ninggalin dan
nyakitin aku, balik lagi dan minta aku jadi pacarnya lagi." Woops.. Kenapa
dengan mudahnya aku mengungkapkan perasaanku dengan orang yang baru ku kenal,
supir taksi.
"Lebih besar rasa cinta, atau benci di hati mbak?"
Aku terdiam, rasanya aku tidak dapat ku menjawab pertanyaan
itu.
"Mbak, kok diem?"
"Ga tau mau jawab apa mas."
"Believe your
heart."
Woww, aku terkejut dengan kata-katanya yang barusan.
"Mas ini sebenarnya siapa sih?"
"Nama saya Ridwan, saya sih sebenernya mahasiswa
jurusan psikologi mbak, saya nyupir gara-gara uang saya ga cukup buat bayar
skripsi, hehehe…” tawanya renyah, seperti tak ada beban.
“Ooh gitu.” jawabku datar.
“Cowok itu kalo udah mencintai seseorang, dia akan terus
berusaha untuk mendapatkan wanita yang ia cintai. Jadi mbak jangan nangis, biar
waktu yang jawab apakah dia bener-bener sayang sama mbak atau enggak.”
No comments:
Post a Comment