Monday, 12 January 2015

Perenungan tentang Kematian

      Rabu, 7 Januari 2015 adalah saat pertama kali bagi saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana kematian datang pada pasien saya. Pagi hari, saya masih sempat memberi minum obat, bercakap-cakap dengan dia, meskipun komunikasi 1 arah (karena dia tunarunggu, dan tunawicara). Jam 09.00 nafasnya mulai melemah, dan akhirnya code blue dibunyikan. Kami melakukan prosedur standar, RJP, dan memberikan beberapa obat-obatan penyokong, agar nyawanya tetap hidup. Usaha kami berhasil, beliau hidup, namun Tuhan berkehendak lain, nyawanya diambil. Kali itu adalah pertama kalinya saya mengurus administrasi kematian. Belakangan diketahui bahwa pasien tersebut sudah 10 tahun hidup sebatang kara di dunia, tanpa keluarga. Pengalaman pertama ini begitu membekas, hingga agak sulit bagi saya untuk melupakannya.
      Kamis, 8 Januari 2015 memang bukan perkara kematian, tetapi bagaimana seorang yang masih diberikan waktu untuk hidup, masih diberikan kesempatan untuk sembuh, memilih untuk tidak diobati dan kabur. Lagi-lagi itu adalah pertama kalinya saya menghadapi permasalahan baru, yaitu pasien kabur. Sebuah ironi, dimana kami tim medis berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan, menawarkan jalan terbaik untuk meningkatkan derajat kesehatannya, tetapi niat baik itu ditolak, bahkan seperti tidak dihargai. Memang setiap orang berhak untuk memilih jalan hidupnya masing-masing, tetapi lagi-lagi kita harus kembali menyadari kerja keras dan usaha orang lain di sekitar kita, setidaknya menghargai itu sudah cukup.
        Jumat, 9 Januari 2015 adalah kedua kalinya saya menghadapi kematian. Lagi-lagi masalah keputusan setiap orang, untuk memilih menjalani saran tim medis untuk sembuh dan tetap sehat, atau untuk tidak mengikutinya. Sebuah kematian, adalah dampak terburuk dari ketidakpatuhan terhadap terapi medis yang seharusnya menjadi pilihan utama.
          Bagi orang yang belum pernah merasakan kematian, mungkin belum pernah mengetahui sakitnya kehilangan orang yang dikasihi. Betapa berharganya 1 nyawa, sehingga uang seberapa banyaknya pun tidak cukup untuk menggantikannya. Kematian, memberikan banyak perenungan bagi saya seorang tenaga medis. Pertama, betapa sehat adalah pilihan, sebagaimana kita menjaga tubuh kita tetap sehat, dan tetap berada dalam jalur pengobatan medis, yang paling tepat. Kedua, betapa keluarga itu penting, yang akan selalu mendampingi disaat yang tersakit sekalipun. Ketiga, betapa nyawa, merupakan otoritas Tuhan, dimana hanya Dia lah yang mampu menentukan umur manusia.
        Bersyukur sekarang, berbuat baik sekarang, selagi masih diberikan nafas...

No comments:

Post a Comment