Sunday, 22 June 2014

My Great Man

Malam ini saya teringat kalau dulu saya punya sebuah doa yang bunyinya seperti ini:
"Tuhan kalau boleh hamba memohon, jangan jadikan pacar saya hari ini menjadi suami saya kelak. Tetapi Tuhan, kalau memang Kau gariskan dia untukku, berikan hamba hati yang sabar, jiwa yang kuat untuk tetap setia sampai mati."

Saya akan bercerita secara singkat latar belakang mengapa saya berdoa seperti ini.

Kami, saya dan Jemi telah menjalin komitmen sejak 6 tahun lamanya, bahkan jauh sebelum usia saya matang, masa SMA. Kami tidak pernah berfikir tentang masa depan, kala itu. Yang kami tahu adalah bersenang-senang dan bahagia. Seiring dengan bertambahnya usia kami dihadapkan dengan kenyataan bahwa banyak hal yang harus dipertanggungjawabkan: hubungan, dan kehidupan selanjutnya. Kami sadar, pasangan 'immature' yang kami miliki terkadang menjadi penghalang untuk meraih mimpi dan cita-cita. Namun, semakin kami berusaha untuk menjauh, semakin kami menyadari kalau kami saling membutuhkan.

Enam tahun adalah waktu yang cukup untuk mengenal keburukan dan kebaikan pasangan. Saya mengenal diri saya sebagai cengeng, cerewet, mudah kecewa dan bersedih, namun selalu mengusahakan 'ya' bagi pasangan saya. Saya mengenal dia sebagai pendiam, tertutup, meledak-ledak dan harus 'di-Iyakan'. Hal-hal kecil terkadang menjadi pertengkaran-pertengkaran ringan layaknya pasangan pada umumnya.

Teringat sebuah quote "Kita membutuhkan cermin dan kacamata orang lain untuk menilai letak kekurangan kita. Karena tanpanya kita tidak bisa melihat telinga kita dengan mata kita sendiri."

Terhadap kekurangan-kekurangannya saya memang sering protes, terkadang ngambek, bahkan beberapa kali saya minta untuk mengakhiri hubungan. Namun ia bersikeras untuk mempertahankan saya dan hubungan kami. Teringat 1 kalimat yang diucapkannya "Setiap manusia memiliki kekurangannya masing-masing. Kita tidak bisa merubahnya, tetapi harus menerima dan belajar memaklumi pasangan kita. Karena tidak ada manusia yang sempurna".

Malam ini saya menyadari bahwa saya memiliki pria hebat, yang dengan beberapa kekurangannya (yang saya benci) ia selalu mencintai saya dengan kekurangan yang saya miliki.
Namun, saya masih memiliki kekhawatiran, akankah saya dapat bertahan setia sampai mati dan 1 untuk selamanya, jika kelak saya harus membina hubungan rumah tangga dengannya kelak.
Masa depan hanya Tuhan yang tahu.

Maka Tuhan kalau boleh saya merubah doa yang pernah terucap. "Terima kasih atas pelajaran kesabaran, kekuatan, dan cinta yang boleh saya dapatkan. Siapapun jodoh saya kelak jadikanlah saya manusia yang dapat melengkapinya setia sampai mati."

No comments:

Post a Comment